TLKM dan ASII Menanggung Rugi dari Ambles Saham GOTO, Berikut Estimasinya - TEKNOIOT

8 Dec 2022

TLKM dan ASII Menanggung Rugi dari Ambles Saham GOTO, Berikut Estimasinya

Teknoiot - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tenggelam, nyaris selalu mentok auto rejection bawah (ARB) sejak akhir bulan lalu. Saham GOTO yang ambles menyeret PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra International Tbk (ASII) pada jurang rugi investasi.

Sebab, TLKM dan ASII punya investasi di GOTO. Semakin anjlok saham GOTO, semakin besar potensi kerugian yang ditanggung TLKM dan ASII. Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, punya estimasinya.

Teguh melakukan kalkulasi dengan asumsi harga GOTO pada penutupan pasar kemarin, Selasa (6/12). Saat harga GOTO melorot 6,50% ke harga Rp 115. Adapun pada perdagangan hari ini (7/12), saham GOTO kembali merosot sebanyak 6,96% ke level Rp 107.

Dalam analisanya, Teguh memakai rujukan laporan keuangan TLKM dan ASII pada kuartal III-2022. Pertama, Teguh membedah ASII. Pada laporan periode sembilan bulan tersebut, ASII mencatat keuntungan nilai wajar atas investasi GOTO senilai Rp 1,1 triliun.




"ASII mencatat nilai investasinya di GOTO berdasarkan "harga kuotasian dalam pasar aktif", yang artinya keuntungan di atas berasal dari kenaikan harga saham GOTO di pasar," ungkap Teguh yang dihubungi Kontan.co.id, Rabu (7/12).

Dalam penjelasan laporan keuangan ASII, diungkapkan nilai investasi di GOTO per 30 September adalah Rp 4,6 triliun. Artinya, modal ASII untuk investasi di GOTO senilai Rp 3,5 triliun.

Dengan harga penutupan GOTO per 30 September sebesar Rp 246, maka ditaksir ASII memegang 18,7 miliar lembar saham. Dengan asumsi itu, harga modal investasi ASII di GOTO adalah Rp 187 per saham.

Jadi, ketika harga saham GOTO turun hingga ke level Rp 115, maka nilai investasi ASII di GOTO juga merosot menjadi Rp 2,15 triliun. Dengan nilai modal sebanyak Rp 3,5 triliun, maka kerugian ASII pada posisi itu ditaksir mencapai Rp 1,35 triliun.

Dengan kata lain, ketika pada akhir tahun harga saham GOTO ada di level Rp 115, maka ASII akan mencatatkan kerugian nilai wajar atas investasi pada GOTO sebesar Rp 1,35 triliun.

Lalu, jika saham GOTO terus terjun hingga mentok ke level gocap alias Rp 50, menurut hitungan Teguh, kerugian ASII akan membengkak jadi Rp 2,6 triliun.

"Ini adalah kerugian maksimal yang bisa diderita oleh ASII karena investasinya di GOTO," imbuh Teguh.

Sementara itu, untuk TLKM memiliki saham GOTO melalui anak usahanya yakni PT Telkomsel. Kala itu, Telkomsel memborong 23,7 miliar lembar saham GOTO senilai US$ 450 juta atau setara Rp 6,4 triliun berdasarkan kurs rupiah saat itu. Transaksi dilakukan pada 18 Mei 2021.

Pada posisi itu, harga modal TLKM di GOTO dibulatkan menjadi sebesar Rp 270 per saham. Hanya saja,ketika harga saham GOTO turun ke Rp 246 per 30 September 2022, TLKM mencatatkan rugi investasi Rp 3,1 triliun.

Dengan rugi investasi sejumlah itu, maka harga modal TLKM di GOTO seharusnya sebesar Rp 376 per saham. Oleh sebab itu, Teguh pun memberikan catatan, ada dua asumsi harga modal TLKM di GOTO. Yakni Rp 270 dan Rp 376.

Dalam kalkulasinya, Teguh menggunakan versi harga modal Rp 270. Berdasarkan asumsi ketika saham GOTO di harga Rp 115 dan jumlah saham TLKM sebanyak 23,7 miliar lembar, maka nilai investasinya menjadi Rp 2,7 triliun.

Jumlah itu ambles jauh dibandingkan nilai awal sebesar Rp 6,4 triliun. Sehingga, ketika saham GOTO ada di harga Rp 115, TLKM akan menderita rugi Rp 3,7 triliun atas investasinya di GOTO.
Rekomendasi ASII dan TLKM

Berdasarkan estimasi tersebut, Teguh punya catatan sebagai pertimbangan dalam memilih saham ASII dan TLKM. Per kuartal III-2022. laba bersih ASII tercatat sebesar Rp 22,2 triliun, jika tidak menghitung keuntungan investasi di GOTO yang senilai Rp 1,1 triliun.

Teguh kemudian memakai skenario, ASII bisa meraih laba bersih sebesar Rp 29,6 triliun di akhir tahun. Di atas telah diurainkan, sekalipun saham GOTO anjlok ke level gocap, maka ASII akan menanggung rugi investasi Rp 2,6 triliun.

Dengan skenario itu, ASII masih bisa membukukan laba bersih Rp 27 triliun di akhir tahun. Jumlah itu masih tumbuh signifikan dibandingkan laba bersih pada tahun 2021 yang sebesar Rp 20,2 triliun.

Artinya, dengan skenario terburuk pun kinerja ASII secara keseluruhan masih tumbuh pada tahun ini. Hasil iitu bisa diraih lantaran kinerja Grup Astra terdongkrak booming komoditas batubara, sawit, dan juga otomotif yang menjadi bisnis intinya.

Menimbang estimasi itu, pelaku pasar pun masih layak untuk hold saham ASII.

"Jadi ibarat investor saham, ASII memang nyangkut di GOTO, tapi dia masih cuan di saham-sahamnya yang lain, dan kinerja portofolio secara keseluruhan tetap profit," terang Teguh.

Sementara untuk TLKM, merujuk pada kinerja per kuartal III-2022, laba bersih TLKM tercatat sebesar Rp 16,6 triliun, sudah termasuk rugi investasi di GOTO.

Jika kerugian investasi itu tidak dihitung, maka laba TLKM sebesar Rp 19,7 triliun. Di sini, Teguh memakai skenario laba bersih TLKM akan mencapai Rp 26,3 triliun di akhir tahun.

Seperti yang telah dijelaskan, dengan asumsi harga GOTO di Rp 115, maka TLKM akan rugi investasi sebanyak Rp 3,7 triliun. Jika itu bertahan sampai akhir tahun, maka laba TLKM secara keseluruhan akan terpangkas menjadi Rp 22,6 triliun.

Dengan skenario itu, maka laba bersih TLKM tahun ini turun dibandingkan tahun 2021 yang saat itu mencapai Rp 24,8 triliun. Laba bersih TLKM akan terpangkas lebih dalam jika memakai asumsi harga modal investasi di GOTO sebesar Rp 376 per saham.

"Jadi kalau anda pegang saham TLKM, silakan dipertimbangkan lagi, apakah mau tetap hold atau jual," tandas Teguh.

Adapun, ulasan mengenai estimasi kerugian TLKM dan ASII dari investasinya di GOTO ini juga dapat dilihat di teguhhidayat.com.

Ref: Kontan

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda